Monday, 29 October 2012

Text Book Development


Pengertian buku teks telah banyak disampaikan oleh para pakar yang diantaranya adalah menurut Hall-Quest. Menurutnya buku teks adalah rekaman pikiran rasial yang di susun untuk maksud-maksud dan tujuan-tujuan intruksional. Sementara itu, Lange menjelaskan bahwa buku teks adalah buku standar, buku setiap cabang khusus dan studi dan dapat terdiri dari dua tipe yaitu buku pokok/utama dan suplemen/tambahan. Lebih terperinci lagi Bacon mengemukakan bahwa buku teks adalah buku yang dirancang buat penggunaan di kelas, dengan cermat yang disusun dan disiapkan oleh para pakar ataupara ahli dalam bidang itu dan diperlengkapi dengan sarana-sarana pengajaran yang sesuai dan serasi. Berdasarkan pendapat para ahli tesebut, dapat disimpulkan bahwa buku teks adalah buku pelajaran yang disusun oleh para ahli atau pakar dalam bidangnya untuk menunjang program pengajaran yang telah digariskan oleh pemerintah. Buku teks merupakan buku yang dijadikan teks pelajaran. Karena itu, buku teks sering disebut buku pegangan, buku ajar, dan atau buku pelajaran. Artinya, buku teks adalah buku yang dikhususkan bagi pelajar.

Dalam pengembangan buku teks, hendaknya harus memiliki tiga bagian utama, yaitu: Pertama, optimalisasi pengembangan pengetahuan deklaratif dan pengetahuan prosedural. Kedua, pengetahuan tersebut harus menjadi target utama dari buku pelajaran yang akan digunakan di sekolah. Dimana teknik, metode, atau pendekatan yang dikembangkan oleh penulis dan penerbit buku tidak terlepas dari keterkaitan dengan apa yang sedang diprogramkan oleh Depertemen Pendidikan Nasional dan Kebudayaan, yaitu bahwa buku pelajaran harus mengacu pada kurikulum yang berlaku, berorientasi pada keterampilan proses dengan menggunakan pendekatan kontekstual, teknologi dan masyarakat,  serta demonstrasi dan eksperimen. Ketiga, suatu buku pelajaran harus dapat menggambarkan dengan jelas keterpaduan atau keterkaitan dengan disiplin ilmu lainnya.  Sehingga buku teks yang telah disusun penulis dan penerbit dapat sesuai dengan kurikulum yang dipakai di lembaga sekolah terkait dan sesuai dengan materi yang diajarkan.

Buku teks sebagai buku acuan atau bahan pembelajaran yang digunakan dalam kegiatan proses belajar mengajar harus mengacu pada prinsip-prinsip di bawah ini, yaitu:
a.  Prinsip relevansi artinya keterkaitan, materi yang ditulis hendaknya relevan dengan pencapaian standar kompetensi yang ingin dicapai.
b.   Prinsip konsistensi artinya kesesuaian, jika kompetensi dasar yang harus dikuasai empat macam maka bahasan yang ada pada buku juga harus meliputi empat macam.
c.       Prinsip kecukupan artinya materi yang diajarkan hendaknya mencukupi dalam membantu siswa mengusai kompetensi yang akan diajarkan, materi tidak boleh terlalu sedikit dan tidak boleh terlalu banyak, jika terlalu sedikit akan kurang membantu mencapai kompetensi standar sebaliknya jika terlalu banyak akan membuang buang waktu dan tenaga yang tidak perlu untuk mempelajarinya.

Dalam pembuatan dan pengembangan buku teks, agar buku teks yang dikembangkan bermanfaat dan berguna secara efektif maka perlu memperhatikan karakteristik dalam mengembangkan buku teks yaitu:
a.      Standar yang berkaitan dengan aspek materi yang harus ada dalam setiap buku pelajaran. Dalam hal ini memuat mengenai kelengkapan materi; keakuratan materi; kegiatan yang mendukung materi; kemutakhiran materi; upaya meningkatkan kompetensi siswa; pengorganisasian materi mengikuti sistematika keilmuan; materi mengembangkan keterampilan dan kemampuan berpikir; materi merangsang siswa untuk melakukan inquiry; penggunaan notasi, simbol, dan satuan.
b.  Standar yang berkaitan dengan aspek penyajian yang harus ada dalam setiap buku pelajaran adalah sebagai berikut: organisasi penyajian umum; organisasi penyajian per bab; penyajian mempertimbangkan kebermaknaan dan kebermanfaatan; melibatkan siswa secara aktif; mengembangkan proses pembentukan pengetahuan; tampilan umum; variasi dalam cara penyampaian informasi; meningkatkan kualitas pembelajaran; anatomi buku pelajaran; memperhatikan kode etik dan hak cipta; dan memperhatikan kesetaraan gender serta kepedulian terhadap lingkungan.
c.       Standar yang berkaitan dengan aspek bahasa/keterbacaan yang harus ada dalam setiap buku pelajaran adalah sebagai berikut: bahasa Indonesia yang baik dan benar; peristilahan; kejelasan bahasa; kesesuaian bahasa; dan kemudahan untuk dibaca.

Pada akhirnya, dalam pengembangan buku teks sebagai revolusi bagian dari pendidikan ini, maka pengembagan buku teks juga harus memperhatikan Buku teks berkaitan erat dengan kurikulum yang berlaku. Buku teks yang baik harus relevan dan menunjang pelaksanaan kurikulum. Ada sebelas aspek untuk menentukan kualitas buku teks, yaitu (1) memiliki landasan prinsip dan sudut pandang yang berdasarkan teori linguistik, ilmu jiwa perkembangan, dan teori bahan pembelajaran, (2) kejelasan konsep, (3) relevan dengan kurikulum yang berlaku, (4) sesuai dengan minat siswa, (5) menumbuhkan motivasi belajar, (6) merangsang, menantang, dan menggairahkan aktivitas siswa, (7) ilustrasi tepat dan menarik, (8) mudah dipahami siswa, yaitu bahasa yang digunakan memiliki karakter yang sesuai enan tingkat perkembangan bahasa siswa, kalimat-kalimatnya efektif, terhindar dari makna ganda, sederhana, sopan dan menarik, (9) dapat menunjang mata pelajaran lain, (10) menghargai perbedaan individu, kemampuan, bakat, minat, ekonomi, sosial dan budaya, (11) memantapkan nilai-nilai budi pekerti yang berlaku di masyarakat.

Dengan demikian, dalam pengembangan buku teks, hendaknya penulis dan penerbit harus memperhatikan sistematika, prinsip, dan karakteristik penulisan dan pengembangan buku teks sebagai bahan pembelajaran sehingga buku teks yang dipakai akan relevan dan efektif digunakan dalam proses belajar mengajar, meskipun saat ini pemerintah telah menerapkan Buku Sekolah Elektronik (BSE). Hal ini bukanlah suatu hambatan untuk mengembangkan buku teks. Langkah Kemendikbud untuk mengembangankan ”Buku Sekolah Elektronik (BSE)” layak disambut dengan sangat baik. Mulai tahun 2007, Kemendikbud telah mengembangkan jaringan elektronik ke seluruh sekolah di Indonesia. Lalu, Depdiknas membeli hak cipta (”copy right”) buku-buku teks untuk disajikan secara terbuka di website bagi siapa saja yang memerlukan. Siswa, guru atau sekolah tinggal mendownload dan mencetaknya. Dengan demikian, tidak ada lagi alasan bagi siswa tidak dapat mengikuti pelajaran dengan baik karena tidak punya buku. Kendalanya hanya satu, sejauh mana siswa mempunyai akses internet dengan bandwith internet yang memadai agar dapat download buku teks tersebut.

Daftar Pustaka
http://ramlannarie.wordpress.com/2011/10/22/buku-teks-pelajaran-dan-peranannya/
http://forumgurunusantara.blogspot.com/2012/10/standar-pengembangan-buku-teks-pelajaran.html
http://aguswuryanto.wordpress.com/2010/09/02/pembuatan-buku-teks-pelajaran/

Industri Buku Di Indonesia


Nah, setelah di tulisan sebelumnya saya sudah membahas tentang pengertian buu dan sejarah awal mua adanya buku di dunia (baca di sini), pada postingan kali ini saya akan membahas tentang industri buku di Indonesia. Oke, cekidooot…

Industri Buku di Indonesia
Industri buku merupakan sebuah industri yang memiliki sejarah panjang dalam peradaban manusia. Bahkan hampir semua sepakat bahwa dengan buku pula peradaban manusia sekarang ini di bentuk dan dikembangkan sesuai tuntutan zaman. Sepanjang sejarahnya sudah banyak perubahan/evolusi yang telah dilalui oleh industri penerbitan. Banyak sekali pihak-pihak atau stakeholder yang menjadi bagian penting dalam industri ini seperti penulis, penerbit, percetakan, distributor, hingga toko buku.

Di Indonesia, awalnya buku ditulis di atas sebuah batu atau yang biasa kita kenal dengan sebutan prasasti. Banyak sekali prasasti di Indonesia, diantara adalah prasasti batu tulis yang berisi tulisan Prabu Surawisesa, sebagai peringatan terhadap ayahandanya, Prabu Siliwangi, Raja Kerajaan Padjajaran. Kemudian setelah prasarti, bentuk buku di Indonesia beralih ke bentuk gulungan daun lontar.

Sebenarnya, sejak zaman kerajaan-kerajaan di Indonesia sudah terdapat banyak naskah berbentuk buku ataupun lembaran-lembaran yang ditulis tangan, baik berupa karya sastra, kenegaraan (naskah perjanjian), hingga ayat-ayat suci. Kitab-kitab seperti Nagara Kertagama karya Mpu Prapanca di abad 14, Sutasoma karya Mpu Tantular, dan lain-lain cukup dikenal publik sebagai peninggalan berharga dari sejarah Indonesia.
Buku-buku Islam karya berbagai ulama terkenal juga amat mewarnai dan mempengaruhi budaya dan kehidupan masyarakat saat itu. Sebut saja semisal Kitab Tajussalatin atau Mahkota Segala Raja yang dikarang oleh Bukhari Al-Jauhari pada tahun 1603. Bahkan dalam kitab seperti "Serat Centini" dan "Serat Cebolek" yang merupakan karya sastra Jawa kuno, yang tersusun pada abad ke-19, disebutkan bahwa sejak permulaan abad ke-16 di Nusantara telah banyak dijumpai pesantren besar yang mengajarkan kitab-kitab Islam klasik di bidang fikih, teologi, dan tasawuf.

"Serat Centini" yang ditulis oleh Raja Keraton Surakarta Hadiningrat, Paku Buwono V, tatkala menjadi putra mahkota pada 1814, malah dengan jelas menuliskan judul-judul kitab yang diajarkan pesantren sejak abad ke-16, seperti Mukarrar (al Muharrar, karya Imam Rafi'i), Sujak (mungkin kitab Taqrib karya Ibnu Suja), Ibnu Kajar (Ibnu Hajar al Haitami, penulis kitab Tuhfatul Muhtaj?), Samarqandi (Abu Laits Muhammad Abu Nasr as Samarqandi, penulis kitab Ushuludin, tanpa judul, sehingga terkenal dengan sebutan pengarangnya), Humuludin (Ihya Ulumuddin karya Imam Gazali), Sanusi (Abu Abdallah Muhammad Yusuf as Sanusi al Hasani, penulis kitab Ummul Barahin atau Durrah yang membahas akidah dari sudut pandang tarekat Sanusiyah), dan lain-lain.

Sementara di luar Jawa terdapat lembaga pendidikan semodel pesantren dengan nama atau istilah lain, seperti meunasah di Aceh dan surau di Sumatra Barat. Mereka juga telah menggunakan kitab-kitab untuk dipelajari, yang nyaris sama dengan kitab-kitab di pesantren Pulau Jawa.

Buku di Zaman VOC
Sejatinya perkembangan yang menandai dimulainya industry buku di tanah air terjadi ketika mesin cetak masuk ke Hindia Belanda abad ke -17 yang dibawa oleh VOC (Verenidge Oostindische Compagnie). Mereka mencetak banyak hal, mulai dari brosur, pamflet, hingga koran dan majalah (Kurniawan Junaedhi, 1995: Rahasia Dapur Majalah di Indonesia). Pada tahun 1778, berdiri perpustakaan Bataviaash Genootschaap vor Kunsten en Watenschappen, dengan koleksi naskah dan karya tulis bidang budaya dan ilmu pengetahuan di Indonesia. Budaya dan kebiasaan baca pada waktu itu, sebagaimana di daratan Eropa dan Amerika, terbatas pada kaum kolonial, bangsawan, kaum terpelajar, dan pemuka-pemuka agama.

Sejak Hindia-Belanda dikembalikan oleh Inggris tahun 1812, percetakan (surat kabar) dikendalikan sepenuhnya oleh negara, meski perusahaan percetakannya berlokasi di negeri Belanda. Waktu itu percetakan buku juga dikelola oleh swasta, dimulai pada tahun 1839, dipelopori oleh Cijveer & Company. Tiga tahun berselang, percetakan ini berubah nama menjadi Cijveer & Knollaert. Ia berpindah tangan lagi ke Ukeno & Company, dan terus berpindah tangan karena kegagalan dalam pemasaran produknya. Di tangan Bruyning Wijt kondisinya akhirnya membaik.

Misi agama juga mempelopori pencetakan buku atau kitab suci. Zending Protestan dilaporkan pertama kali datang ke Indonesia tahun 1831. dan mendirikan sekolah di Tomohon, Minahasa, pada tahun 1850. Di sini mereka mencetak buku, selebaran, dan surat kabar.

Pada akhir abad ke-19, terutama di Jawa, tumbuh penerbit dan percetakan milik orang Tionghoa peranakan dan Indo-Eropa yang menerbitkan sekitar 3000 judul buku, pamflet, dan terbitan lainya sebelum kemerdekaan. Terbitan mereka terutama buku-buku cerita dalam bahasa Melayu Tionghoa atau Melayu pasar. Mereka juga menerbitkan koran yang tumbuh dengan subur. Sastra Melayu Tionghoa mulai berkembang jauh sebelum didirikannya Balai Pustaka pada tahun 1918. Golongan Tionghoa yang hidup lebih makmur dibandingkan dengan golongan bumiputra, dengan sendirinya lebih mampu membeli buku dan membayar langganan koran dan majalah secara teratur. Pada zaman pendudukan Jepang pers Melayu-Tionghoa dihapus. Beberapa bumiputra yang magang di penerbitan milik Tionghoa ini kemudian tumbuh sebagai jurnalis dan penerbit sekaligus, antara lain RM Tirtoadisoerjo dan Mas Marco Katrodikromo, yang dikenal dengan bukunya Student Hidjo.

Tahun 1906, pemerintah kolonial mengubah peraturan sensor barang terbitan. Sebelumnya, setiap penerbit harus menyerahkan naskah mereka kepada penguasa sebelum dicetak. Peraturan baru menerapkan sensor represif, yakni menindak dna membatasi barang cetakan setelah diedarkan. Ini menimbulkan akibat positif berupa maraknya berbagai terbitan, termasuk buku dan majalah.

Buku Anak-Anak
Terdapat fenomena menarik untuk buku buat anak-anak. Pada tahun 1916 saja ternyata sudah ada 61 judul, yakni dengan bahasa Jawa 36 judul dan bahasa Sunda 25 judul. Pada tahun 1921, buku cerita kanak-kanak berbahasa Melayu pertama diterbitkan, berjudul “Cerita Seekor Kucing yang Cerdik”, disadur dari cerita Prancis.

Sementara, monumen bersejarah penerbitan buku anak ditandai dengan terbitnya cerita “Si Samin”, yang merupakan cetak ulang dari buku yang awalnya berjudul “Pemandangan dalam Dunia Kanak-kanak” karangan M.Kasim, tahun 1924. Buku anak-anak kembali mengalami booming pada tahun 1990-an hingga sekarang, terutama dengan membanjirnya komik-komik asal negeri Sakura, Jepang.

Berdirinya Pabrik Kertas Pertama
Hubungan kolonial Belanda di Hindia Belanda dengan pusat yang terhambat karena Perang Dunia I tahun 1918 mengakibatkan suplai kertas dari negeri Belanda terhenti. Agar pasokan tetap seperti semula, NV Gelderland Papier Fabriek di Nijmegen berinisiatif membuka usaha di Hindia Belanda. Tempat yang dipilih sebagai pabrik adalah Padalarang, karena letaknya yang strategis antara Bandung-Jakarta, dekat dengan jalur kereta api, sumber air dengan kualitas bagus untuk pengolahan kertas, dan banyaknya tersedia merang sebagai bahan baku kertas waktu itu. Perusahaan berkembang dan berubah nama menjadi NV Papier Fabriek Padalarang-Leces. Ketika terjadi nasionalisasi perusahaan-perusahaan Belanda, pabrik ini diambil oleh pemerintah dan menjadi Perusahaan Negara (PN) Kertas Padalarang. Kertas dari daerah ini digunakan untuk pembuatan buku tulis, kertas uang, dan kertas lichtdruk.

Balai Pustaka sebagai Tonggak Awal Industri Buku Indonesia
Penerbit Balai Pustaka (BP) boleh disebut sebagai tonggak awal penerbitan buku secara massal di Indonesia. Penerbitan ini muncul dari pembentukan Commissie Voor de Inlandsche Chool en Voklslectuur (Komisi Bacaan Rakyat) melalui keputusan pemerintah No 12 tanggal 14 Sepetember 1908. Pada tahun 1917 komisi ini berganti nama menjadi Balai Poestaka dan mulai mencetak ratusan karya, mulai dari buku dalam berbagai bahasa. Puluhan karya sastra pribumi berbahasa Melayu terbit, seperti “Siti Noerbaja” karya Marah Rusli, “Azab dan Sengsara” karya Merari Siregar, “Salah Asuhan”-Abdul Muis, “Lajar Terkembang” - Sutan Takdir Alisjahbana, “Atheis” - Achdiat Kartamihardja, dan masih banyak yang lainnya. Setelah empat tahun pendiriannya, BP memiliki mesin cetak sendiri untuk keperluan seluruh terbitannya.

Buku Pasca Kemerdekaan
Periode setelah kemerdekaan ditandai dengan penerbitan buku-buku dsalam bahasa Indonesia. Terdapat tren melakukan cetak ulang buku-buku, di samping menerbitkan buku baru. Hingga tahun 1950, penerbitan seperti BP masih dominan dan berhasil menerbitkan dan mencetak ulang 128 judul buku dengan tiras 603.000 ekslempar. Pada saat ini pula muncul karya-karya sastra dari para penulis seperti Idrus dengan “Dari Ave Maria ke Djalan Lain ke Roma”; Tambera karya Utuy Tatang Sontani; Pramudya Ananta Toer dengan “Dia Jang Menjerah” dan “Bukan Poasar Malam”; Mochtar Lubis dengan “Si Djamal”. Selain karya anak negeri, BP juga menghadirkan karya para penulis dunia seperti Fyodor Dostojevsky, John Steinbeck, Anton Chekov, dan lainnya. Di masa sekarang, penerbit BP rata-rata memprroduksi buku sebanyak 320 judul pertahun, dengan porsi terbesar masih buku-buku yang cetak ulang dari tahun-tahun sebelumnya.

Pasca pengakuan kedaulatan Indonesia pada tahun 1949, kebutuhan buku-buku sekolah dapat dibeli di pasar, meskipun banyak dari buku-buku tersebut masih dalam bahasa Belanda. Sejumlah kecil penerbit nasional mulai muncul dengan menerbitkan buku-buku pelajaran sekolah, di antaranya adalah Pustaka Antara, Pustaka Rakyat (sekarang Dian Rakyat), Endang, dan beberapa lagi yang semuanya berpusat di Jakarta. Di Bandung, ada penerbit Ganaco yang mengambil alih percetakan Nix. Situasi yang masih sulit dimanfaatkan segolongan anggota masyarakat yang jeli melihat kesempatan, dengan menstensil buku yang banyak dibutuhkan tetapi kosong di pasaran. Menyalin buku dengan cara menstensil ini kemudian berkembang dengan mengkopi buku aslinya berkat teknologi grafika yang semakin canggih dengan lahirnya mesin cetak offset.
Tahun 1950 lahirlah Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) di Jakarta. IKAPI adalah sebuah asosiasi penerbit buku nasional yang bertujuan membantu pemerintah dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa melalui buku. IKAPI kini memiliki sekitar 650 anggota di penjuru Nusantara. Di era awal 50-an ini pula sempat populer apa yang disebut buku roman atau majalah picisan berharga murah, yang kebanyakan dikeluarkan oleh berbagai penerbitan di Medan, misalnya Tjerdas, Lukisan Pudjangga, dan lain-lain. Sebagian lagi bertemakan misteri, yang banyak digemari pembaca.

Dunia penerbitan buku agak memulih sejak 1973 dengan adanya proyek Buku Inpres, yakni pengadaan buku bacaan untuk anak sekolah. Untuk buku SD, misalnya, dibeli pemerintah dari 250 penerbit sekaligus dengan jumlah sekitar 500 judul, masing-masing 22.000 eksemplar. Jumlah itu ditingkatkan tahun berikutnya di masa Menteri P dan K, Daoed Joesoef, dengan pesanan masing-masing judul 160.000 eksemplar, merata di seluruh Indonesia. Ketika harga minyak turun drastis, pembelian buku ikut menurun terus, hingga akhirnya pada tahun 1995-1996 tinggal 17.000 eksemplar setiap judul. Untuk SLTP-SLTA, jumlah yang dipesan lewat Proyek Inpres jauh lebih sedikit, sekitar 5000-15.000 eksemplar.

Teknologi Cetak Majalah dan Buku
Perkembangan teknologi cetak buku dan majalah di Indonesia secara langsung mengikuti perkembangan yang terjadi di dunia, khususnya daratan Eropa dan Amerika. Dimulai dengan penggunaan mesin cetak hasil pengembangan Guttenberg, yang baru masuk ke Indonesia (waktu itu Hindia Belanda) pada abad 17. Hingga masa tahun 1960-an, percetakan menggunakan mesin typesetting atau letter press (proses cetak dengan permukaan timbul/menonjol).

Sejalan dengan ditemukannya litografi, yang proses cetak analognya menggunakan permukaan datar dan rata, produksi dapatt dilakukan lebih cepat. Mulai tahun 1970-an, penggunaan mesin cetak offset mulai dilakukan di dalam negeri. Kelompok Kompas Gramedia (KKG), misalnya, awalnya hanya menerbitkan majalah Intisari dengan dibantu percetakan dari luar. Intisari dan Koran Kompas --yang terbit kemudian—ternyata oplahnya terus meningkat sehingga memaksa mereka untuk membuat percetakan sendiri. Mesin-mesin cetak web-offset waktu itu antara lain datang dari merek Pacer (Inggris), double width Goss Urbanite (Amerika), dan Heidelberg (Jerman). Teknologi offset cukup lama bertahan bahkan hingga kini. Yang berubah adalah kemampuan mencetak ukuran kertas yang lebih beragam, kecepatan, dan kapasitas cetak yang jauh lebih besar dibanding sebelumnya.

Dengan masuknya era digitalisasi, proses percetakan juga ikut berubah. Yang sekarang lazim dilakukan untuk hampir seluruh buku dan majalah adalah Computer to File (CTP), yang halaman per halaman data digital dikonversi menjadi lembar film, kemudian dibuat plat-nya sebagai acuan cetak. Yang paling mutakhir adalah teknik CTP (Computer to Plate), yakni proses pembuatan image (citra/gambar) pada plat tanpa menggunakan proses pembuatan film fotografi. Citra atau gambar langsung dicetak pada plat langsung dari file komputer. Dengan ini, satu proses yaitu pembuatan film dapat dipotong sehingga mempersingkat waktu pencetakan.Teknik CTP ini sudah beredar di Indonesia dalam skala terbatas sekitar tahun 1995-1996, khususnya untuk mencetak buku atau brosur dalam waktu singkat (annual report, prospektus perusahaan go public, dan lain-lain). Penghematan ini bisa percetakan jadikan insentif bagi harga cetak dan menjadi faktor kompetisi untuk menarik pelanggan baru. Tahun 2004, kabarnya Majalah Pantau merupakan majalah yang dicetak dengan teknologi CTP.


Dengan digitalisasi ini muncul pula tren cetak sesuai permintaan (print on demand), yang mencetak buku dalam jumlah sedikit. Ini dimungkinkan dengan majunya teknologi printer, yang minimal menghasilkan tulisan dengan resolusi 600 dot per inch (dpi). Penerbit merasa lebih aman dengan cara ini, karena tidak harus mencetak banyak dengan resiko tidak terjual (sebagai contoh, di Amerika tingkat retur buku mencapai 40%). Cara ini juga lebih bersifat personalisasi, yang memanjakan calon pembeli. Di dalam negeri, belum ada informasi tentang penerbitan buku dengan model ini.

E-Publishing
Di Indonesia, pengaruh penerbitan elektronik di Amerika dan Eropa juga mengilhami penerbit lokal untuk melakukan hal sama. Penerbit pertama yang merilis e-book di Indonesia adalah Penerbit Mizan, pada awal tahun 2001. Buku “Wasiat Sufi Imam Khomeini” yang dibuat dalam 3 jilid berformat PDF dapat diperoleh dengan mengakses www.ekuator.com. E-book ini dapat diperoleh tanpa biaya dengan mendaftarkan diri sebagai anggota. Karena sifatnya yang gratis tersebut, saat awal pertama diluncurkan, sudah ada 4 ribu orang yang men-download. Mizan memperkirakan hingga kini jumlahnya sekitar 30 ribu orang. Ekuator juga menerbitkan e-book gratis “Pemberantasan Korupsi untuk Meraih Kemandirian, Kemakmuran, Kesejahteraan, dan Keadilan" karya Kwik Kian Gie dan “Lawan Dolar dengan Dinar” karya Zaim Saidi.

Di kalangan anggota mailing list Indonesia, saat ini terkenal kelompok mailing list bu-el (bu-el@yahoogroups.com) yang menyediakan berbagai file gratis buku dan novel asing yang masih dipertanyakan keabsahan hak copy dari sumber aslinya.

Sementara Sanur Online Bookstore dikenal sebagai toko buku online pertama, bukan saja di Indonesia melainkan juga di Asia. Sanur berdiri pada tahun 1996 (www.sanur-online.com), namun tutup setelah dua tahun beroperasi akibat kekurangan pembeli. Pada tahun 2000, mereka muncul lagi dengan manajemen terpisah dari pendiri sebelumnya dan berpindah ke alamat www.sanur.co.id. Kini, mereka menyediakan 30 ribu judul buku untuk dijual, 85% adalah karya lokal. Sayang, perusahaan ini akhirnya mati juga. Ada pula Ekuator Book Gallery (www.ekuator.com) milik Mizan, yang selain menjual buku secara online, juga kerap menyediakan e-book gratis untuk di-download. Banyak penerbit yang juga tampil online dan menjual buku sekaligus, seperti Gramedia, Mizan, dan lain-lain.

Oke, kesimpulan dari industri buku di Indonesia saat ini menurut saya yaitu terdapat peluang dan tantangan yang dihadapi oleh industri buu Indonesia. Peluangnya yaitu, industri buku Indonesia saat ini dapat memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi siapapun yang ingin menjadi penulis profesional. Banyak orang yang malu atau bahkan malas menulis buku, dan banyak juga potensi yang terkubur karena ketiadaan sistem yang mampu memicu potensi seseorang untuk menulis. Namun demikian, industri penulisan buku dapat memberikan peluang bagi mereka yang ingin lebih bergiat melahirkan karya-karya baru. Oleh karena itu, saya kira kehadiran industri penulisan buku patut kita apresiasi bersama. Selanjutnya, peluang yang luas tentu saja akan selalu diringi tantangan. Pertama, akses informasi yang begitu mudah dan cepat membuat masyarakat tidak perlu kesulitan lagi memperoleh ilmu-ilmu baru. Alhasil, mereka dapat membaca dan menulis di manapun mereka suka, seperti di facebook, twitter, blog, dan media jejaring sosial lainnya. Buku kemudian bukan lagi menjadi kebutuhan karena seseorang bisa saja mengunduh e-book atau jurnal-jurnal untuk data penelitian mereka. Kemudian, tantangan selanjutnya adalah adanya peningkatan kualitas buku. Banyak buku yang menjamur di pasaran, namun tergeletak begitu saja karena kualitasnya jauh dari harapan. Menjadi tantangan tersendiri bagi Industri Penulisan Buku untuk memilih serta meng-up grade kualitas para penulis agar tujuannya tercapai, baik sebagai katalisator dalam menciptakan penulis-penulis unggul, maupun sebagai lahan bisnis yang menjanjikan.



Sejarah Awal Mula Buku Hingga Saat Ini

Sebelum kita mengetahui lebih jauh tentang sejarah awal mula buku, yuk kita lihat pengertian buku terlebih dulu...

Buku adalah kumpulan kertas atau bahan lainnya yang dijilid menjadi satu pada salah satu ujungnya dan berisi tulisan atau gambar serta terdiri dari minimal 49 halaman. 

Seiring dengan perkembangan dalam bidang dunia informatika, kini dikenal pula istilah e-book atau buku-e (buku elektronik), yang mengandalkan komputer dan Internet (jika aksesnya online).

Sejarah Awal Mula Buku

Pada zaman manusia kuno, tradisi komunikasi masih menggunakan komunikasi lisan. Penyampaian informasi, cerita-cerita, nyanyian, doa-doa, maupun syair, disampaikan secara lisan dari mulut ke mulut. Karenanya, hafalan merupakan ciri yang menandai tradisi komunikasi pada zaman ini. Semuanya dihafal. Semakin hari, semakin banyak saja hal-hal yang harus dihafal. Saking banyaknya, sehingga akhirnya mereka kuwalahan alias tidak mampu menghafalkannya lagi. Hingga, terpikirlah untuk menuangkannya dalam tulisan. Maka, lahirlah apa yang disebut sebagai buku kuno.

Buku kuno ketika itu, belum berupa tulisan yang tercetak di atas kertas modern seperti sekarang ini, melainkan tulisan-tulisan di atas keping-keping batu (prasasti) atau juga di atas kertas yang terbuat dari daun papyrus. Papyrus adalah tumbuhan sejenis alang-alang yang banyak tumbuh di tepi Sungai Nil.

Mesir merupakan bangsa yang pertama mengenal tulisan yang disebut hieroglif. Tulisan hieroglif yang diperkenalkan bangsa Mesir Kuno bentuk hurufnya berupa gambar-gambar. Mereka menuliskannya di batu-batu atau pun di kertas papyrus. Kertas papyrus bertulisan dan berbentuk gulungan ini yang disebut sebagi bentuk awal buku atau buku kuno.

Selain Mesir, bangsa Romawi juga memanfaatkan papyrus untuk membuat tulisan. Panjang gulungan papyrus itu kadang-kadang mencapai puluhan meter. Hal ini sungguh merepotkan orang yang menulis maupun yang membacanya. Karena itu, gulungan papyrus ada yang dipotong-potong. Papyrus terpanjang terdapat di British Museum di London yang mencapai 40,5 meter.

Kesulitan menggunakan gulungan papyrus, di kemudian hari mengantarkan perkembangan bentuk buku mengalami perubahan. Perubahan itu selaras dengan fitrah manusia yang menginginkan kemudahan. Dengan akalnya, manusia terus berpikir untuk mengadakan peningkatan dalam peradaban kehidupannya. Maka, pada awal abad pertengahan, gulungan papyrus digantikan oleh lembaran kulit domba terlipat yang dilindungi oleh kulit kayu yang keras yang dinamakan codex.

Perkembangan selanjutnya, orang-orang Timur Tengah menggunakan kulit domba yang disamak dan dibentangkan. Lembar ini disebut pergamenum yang kemudian disebut perkamen, artinya kertas kulit. Perkamen lebih kuat dan lebih mudah dipotong dan dibuat berlipat-lipat sehingga lebih mudah digunakan. Inilah bentuk awal dari buku yang berjilid.

Di Cina dan Jepang, perubahan bentuk buku gulungan menjadi buku berlipat yang diapit sampul berlangsung lebih cepat dan lebih sederhana. Bentuknya seperti lipatan-lipatan kain korden.

Buku-buku kuno itu semuanya ditulis tangan. Awalnya yang banyak diterbitkan adalah kitab suci, seperti Al-Qur’an yang dibuat dengan ditulis tangan.

Di Indonesia sendiri, pada zaman dahulu, juga dikenal dengan buku kuno. Buku kuno itu ditulis di atas daun lontar. Daun lontar yang sudah ditulisi itu lalu dijilid hingga membentuk sebuah buku.

Perkembangan perbukuan mengalami perubahan signifikan dengan diciptakannya kertas yang sampai sekarang masih digunakan sebagai bahan baku penerbitan buku. Pencipta kertas yang memicu lahirnya era baru dunia perbukuan itu bernama Ts’ai Lun. Ts’ai Lun berkebangsaan Cina. Hidup sekitar tahun 105 Masehi pada zaman Kekaisaran Ho Ti di daratan Cina.

Penemuan Ts’ai Lun telah mengantarkan bangsa Cina mengalami kemajuan. Sehingga, pada abad kedua, Cina menjadi pengekspor kertas satu-satunya di dunia.

Sebagai tindak lanjut penemuan kertas, penemuan mesin cetak pertama kali merupakan tahap perkembangan selanjutnya yang signifikan dari dunia perbukuan. Penemu mesin cetak itu berkebangsaan Jerman bernama Johanes Gensleich Zur Laden Zum Gutenberg.

Gutenberg telah berhasil mengatasi kesulitan pembuatan buku yang dibuat dengan ditulis tangan. Gutenberg menemukan cara pencetakan buku dengan huruf-huruf logam yang terpisah. Huruf-huruf itu bisa dibentuk menjadi kata atau kalimat. Selain itu, Gutenberg juga melengkapi ciptaannya dengan mesin cetak. Namun, tetap saja untuk menyelesaikan satu buah buku diperlukan waktu agak lama karena mesinnya kecil dan jumlah huruf yang digunakan terbatas. Kelebihannya, mesin Gutenberg mampu menggandakan cetakan dengan cepat dan jumlah yang banyak.

Gutenberg memulai pembuatan mesin cetak pada abad ke-15. Teknik cetak yang ditemukan Gutenberg bertahan hingga abad ke-20 sebelum akhirnya ditemukan teknik cetak yang lebih sempurna, yakni pencetakan offset, yang ditemukan pada pertengahan abad ke-20.

Di era modern sekarang ini perkembangan teknologi semakin canggih. Mesin-mesin offset raksasa yang mampu mencetak ratusan ribu eksemplar buku dalam waktu singkat telah dibuat. Hal itu diikuti pula dengan penemuan mesin komputer sehingga memudahkan untuk setting (menyusun huruf) dan lay out (tata letak halaman). Diikuti pula penemuan mesin penjilidan, mesin pemotong kertas, scanner (alat pengkopi gambar, ilustrasi, atau teks yang bekerja dengan sinar laser hingga bisa diolah melalui computer), dan juga printer laser (alat pencetak yang menggunakan sumber sinar laser untuk menulis pada kertas yang kemudian di taburi serbuk tinta).

Semua penemuan menakjubkan itu telah menjadikan buku-buku sekarang ini mudah dicetak dengan sangat cepat, dijilid dengan sangat bagus, serta hasil cetakan dan desain yang sangat bagus pula. Tak mengherankan bila sekarang ini kita dapati berbagai buku terbit silih berganti dengan penampilan yang semakin menarik.

Bahkan sampai sekarang ini pun, di Indonesia muncul banyak penerbit-penerbit buku. Banyak sekali jumlahnya, hingga tak terhitung, sebab tak tersedia data yang dapat dipertanggungjawabkan. Tidak juga di Ikatan Penerbit Indonesia [IKAPI]. Sebab tidak semua penerbit bergabung dengan lembaga ini.

Namun, dari pengamatan sekilas saja, kita akan dapat segera menyimpulkan, betapa penerbit-penerbit buku saat ini semakin banyak saja jumlahnya. Tengoklah, di toko-toko buku yang ada di berbagai kota di negeri ini, maka akan kita jumpai, berderet-deret bahkan bertumpuk-tumpuk buku-buku baru terbit silih berganti bak musim semi dengan beragam judul dan beraneka desain sampul yang menawan dari berbagai penerbit, baik dari penerbit besar yang sudah mapan dan lebih dulu eksis, maupun dari penerbit kecil yang baru merintis dan masih kembang-kempis.

Animo masyarakat pun terhadap buku nampak juga mengalami peningkatan. Ini nampak dari banyaknya buku-buku bestseller yang laris manis diserbu masyarakat.

Memang, dibanding dengan jumlah penduduk Indonesia yang nyaris 200 juta orang, sungguh mengherankan bahwa sebuah judul buku yang laku beberapa ribu saja sudah terasa menyenangkan dan dianggap bestseller. Akan tetapi, kondisi ini tentu jauh lebih baik bila dibanding dengan tahun-tahun sebelumnya.

Semakin berkembangnya teknologi, saat ini mulai diusung sebuah teknologi buku elektronik (e-book). ebook muncul karena ada empat faktor, yaitu: pertama adalah pemanfaatan Internet yang semakin meluas diberbagai lapisan masyarakat. Kedua penetrasi piranti komputer terutama tablet yang semakin meningkat dari tahun ke tahun. Ketiga, kesadaran masyarakat global yang terus mengkampanyekan hidup harmonis dengan lingkungan (green world). Keempat, semakin terdesaknya kalangan penerbit yang merasa butuh media alternatif untuk memasarkan buku-bukunya selain melalui jaringan toko buku konvensional yang merajai pasar.kini juga memanfaatkan kemajuan teknologi informasi sebagai media yang diklaim cukup efektif dalam merebut pasar secara online.

Refrensi:

Penulisan Buku Teks Pelajaran, Sitepu B.P, PT Remaja Rosdakarya, Jakarta, 2012

http://pandri-16.blogspot.com/2011/11/sejarah-perkembangan-buku-di-dunia-dan.html

Thursday, 25 October 2012

Detik-detik Terakhir Usia Belasan

Ini tentang detik-detik terakhir di umur belasan saya :(
Beraaaaat sekali rasanya harus meninggalkan status sebagai "teenager".. hiks hiks
karena dalam hitungan jam, menit, bahkan masih bisa dihitung dengan detik, pasti nanti Mama akan sering bilang "jangan begitu mba, sudah 20 tahun sekarang" atau "Kamu tuh udah gede, inget udah 20 tahun"
Entah kenapa, meninggalkan usia belasan adalah hal yang saya takutkan.. dari dulu.. Oke, mungkin saya sedikit lebay, well inilah yang saya rasakan :(
Dulu saya selalu bilang "Ih, umurnya udah 20 tahun, pasti nggak enak, tanggung jawabnya udah tambah banyak"
dan temen saya selalu bilang "emang apa bedanya umur belasan sama umur 2o-an?"
Emang sih gak ada perbedaan yang mencolok, yang jelas bagi saya, umur belasan lebih terlihat 'muda', lebih 'bebas' menjalankan mimpi-mimpi (bukan berarti umur 20an enggak bisa).. Erggghhh saya bener-bener nggak siap untuk umur 20 tahun :(

 Detik-detik terakhir di usia belasan...
Sebenernya masih banyak impian yang belum dan pengen saya capai. Mimpi-mimpi besar yang selalu tersimpan rapi dalam benak saya. Tapi saya masih mensyukuri hidup, mensyukuri 19 tahun yang penuh berkah, mensyukuri setiap hal indah dan kenangan manis selama 19 tahun saya diberikan hidup.
Terimakasih Allah untuk semuanya. Untuk keluarga terbaik. Untuk teman-teman dan para sahabat yang selalu mengerti saya. Untuk semua impian-impian kecil yang sudah ENGKAU kabulkan.
Detik-detik terakhir di usia belasan.
Saya bahkan enggak sempat merenungkan hal-hal salah apa saja yang sudah saya lakukan selama 19 tahun ini :'( saya bahkan juga enggak sempat membuat resolusi tahun ke depan.

Detik-detik terakhir di usia belasan ini...
Saya menghabiskan detik ini bersama beberapa orang-orang terdekat. Bersama keluarga, bersama dia, bersama mereka para sahabat dan bersama anak-anak Bimbel Rumahan. Menikmati alunan takbir yang menggema malam ini. Saya amat bersyukur karena usia 20 tahun saya esok akan bertepatan dengan Idul Adha :')

Derik-detik terakhir di usia belasan ini...
Saya menatap haru kearah tumpukan #mimpivia. Meski masih banyak impian-impian besar saya yang belum terwujud hingga saat ini, setidaknya, saya sangat bahagia dan TERIMAKASIH ALLAH atas anugrah tak tergantikan :')

Detik-detik terakhir di usia belasan ini...
Selamat tinggal usia belasan. Terimakasih untuk hidup yang indah. Terimakasih untuk pelajaran berharga. Terimakasih untuk semuanya...

Detik-detik terakhir di usia belasan ini :')
Allah berklahilah umur saya. Lindungi saya. Permudahkanlah setiap urusan saya, selalu..
aamiin..


PS: terimakasih untuk Dilla yang pagi tadi sudah mengucapkan selamat ulang tahun (salah tanggal ternyata -___-) & Nung buat kadonya yang unyuuu banget hehehe :D

Wednesday, 17 October 2012

Pentingnya Membayar Pajak & Mempunyai NPWP

Tulisan saya kali ini akan mengulas sedikit tentang betapa pentingnya kita harus membayar pajak dan mempunyai NPWP (Nomor Pokok Wajib Pajak). Sebentar, saya perlu jelaskan dulu. Saya bukan orang dari Dirjen Pajak apalagi konsultan pajak. Silahkan koreksi kalau nanti tulisan saya ada yang salah. Saya menulis ini hanya berdasarkan pengetahuan dan pengalaman saya pribadi. Alasan saya menulis? Tentu sebagai warga negara yang baik tak ada salahnya kan saya menyeru, mengajak orang-orang yang membaca tulisan ini agar taat dan tertib pajak.

Dulu saya sering bertanya pada diri sendiri, mengapa pemerintah mewajibkan pajak bagi rakyatnya? Tidakkah hal itu hanya akan menjadi beban saja, terutama bagi mereka dengan penghasilan yang pas-pasan. Saya juga sering merasa sebal ketika ada perlombaan yang hadiahnya dipotong pajak atau ketika membeli barang-barang yang dibungkusannya bertuliskan “harga belum termasuk pajak”. Untuk apa sebenarnya pajak itu? Sempat saya berpikir, kalau pajak itu hanya akal-akalan pemerintah untuk menguras harta rakyat lalu membagi-bagikannya kepada para pejabat. Terlebih lagi ketika muncul kasus Gayus Tambunan, salah satu pegawai pajak yang menyelewengkan jabatannya untuk melakukan tindakan korupsi. Hal itu membuat saya semakin bingung dengan pajak dan semakin malas untuk membayar. Untuk apa? Kalau akhirnya uang pajak itu hanya akan dikorupsi.

Seiring berjalannya waktu, saya semakin banyak belajar tentang pajak. Menelaah alasan pemerintah yang mewajibkan rakyatnya untuk membayar pajak. Ternyata  itu semua karena pajak mempunyai peranan yang sangat penting dalam kehidupan bernegara, khususnya untuk melanjutkan pembangunan. Idealnya, pajak dapat dianggap sebagai bentuk keikutsertaan kita sebagai masyarakat dalam pembangunan Indonesia. Karena dengan pajak, negara bisa menjalankan fungsi-fungsinya, baik itu di bidang eksekutif (pemerintahan) legislatif (pengawasan) ataupun yudikatif (penegakan hukum) yang berguna untuk mewujudkan kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat. Seandainya pajak tidak ada, berarti sumber penerimaan negara juga nihil, atau kalaupun ada  minim jumlahnya.  Alat-alat pemerintahan kemungkinan tidak bisa bekerja dan berjalan secara optimal sebagaimana yang diharapkan. Penyebabnya adalah ketiadaan dana untuk menggerakkan atau menjalankan tugas-tugasnya.

Banyak diantara kita yang masih belum paham tentang pajak dan hal ini kerap menjadi alasan mengapa kita tidak mau membayar pajak. Untuk itu diperlukan upaya sosialisasi dan kampanye oleh pemerintah agar orang-orang menjadi tahu bahwa kewajiban membayar pajak berdasarkan undang-undang (UU). Tapi, apakah orang yang sudah tahu dan sudah sadar akan pentingnya pajak, maka mereka otomatis akan membayar pajak? Belum tentu. Walaupun sudah tahu dan sudah sadar, tetapi sepanjang mereka belum peduli untuk membayar pajak, maka tetap saja mereka akan enggan membayar pajak. Mereka melihat tetangga, sahabat, maupun mitra bisnisnya tidak membayar pajak, tetapi tenang-tenang saja. Diperlukan upaya penegakan hukum yang kuat agar dapat menimbulkan efek jera bagi masyarakat. Dengan demikian, masyarakat akan peduli untuk membayar pajak.

Hari ini saya melaksanakan kewajiban saya sebagai warga negara yang baik. Saya membuat Nomor Pokok Wajib Pajak dan saya sudah mendapatkan kartu NPWP atas nama saya sendiri. Well, kenapa saya senekat itu membuat NPWP, padahal saya kan belum memiliki pekerjaan, jadi saya belum saatnya memiliki NPWP. Nah, statment inilah yang harus diluruskan. Inisiatif saya mungkin masuk kategori terlalu tinggi. Saya membuat NPWP saat saya masih berada di dunia kampus (belum bekerja). Lalu apa yang akan dipajaki? Jawabannya tentu tidak ada. Penghasilan saja belum punya. Jadi nilai pajak saya minus alias saya tidak perlu membayar kewajiban pajak tersebut. Negaralah yang membayari pajak orang-orang minus seperti saya.

NPWP atau Nomor Pokok Wajib Pajak pada dasarnya sekedar nomor yang diberikan kepada para Wajib Pajak untuk memperlancar administrasi urusan perpajakan. Wajib Pajak di Indonesia adalah rakyat Indonesia. Sebab, konsep pajak sendiri adalah mengena untuk semua warga negara dimulai pada usia tertentu. Artinya, tidak ada suatu keharusan bahwa NPWP hanya untuk yang sudah bekerja (berpenghasilan).

Apa sih manfaat mempunyai NPWP? Banyak banget manfaat kita memiliki NPWP, diantaranya adalah kemudahan pengurusan administrasi dalam pengajuan kredit bank, pembuatan kartu kredit di bank, pembayaran pajak final (PPh Final, PPN, dan BPHTB,dll), pembuatan paspor, mengikuti lelang di Instansi Pemerintah, BUMN, dan BUMD, kemudahan pelayanan perpajakan, kemudahan pengembalian pajak, dan juga bebas dari pengenaan fiskal di luar negeri.

Menarik kan? Ayoo kita sama-sama berupaya menjadi warga negara yang baik dan membantu pembangunan Indonesia dengan memiliki NPWP dan taat bayar pajak. Dengan mempunyai NPWP artinya kita sudah selangkah lebih baik dan mau tertib pajak kepada negara. :)